Oleh: Cecep Anang Hardian
Ketua DPD Aliansi Wartawan Independen Indonesia Provinsi Banten
Dalam kehidupan, ada dua hal yang tidak bisa dipisahkan dari kepemimpinan: ilmu di kepala dan iman di hati.
Ilmu membuat seseorang mampu memimpin dengan strategi. Namun iman membuat seseorang mampu memimpin dengan nurani.
Di tengah dinamika demokrasi daerah, khususnya di Kota Tangerang, kita menyaksikan bagaimana kritik kerap dipersepsikan sebagai gangguan. Padahal, jika direnungkan dengan hati yang jernih, kritik sejatinya adalah cermin.
Cermin untuk melihat apakah amanah sudah dijalankan dengan lurus.
Cermin untuk menguji apakah kebijakan sudah benar-benar berpihak.
Setiap jabatan adalah amanah. Baik di eksekutif maupun legislatif, amanah itu bukan sekadar formalitas administratif, melainkan tanggung jawab moral.
Ketika masyarakat bertanya tentang transparansi anggaran, itu bukan bentuk pembangkangan. Ketika publik mengkritisi fungsi pengawasan, itu bukan bentuk permusuhan. Itu adalah bagian dari partisipasi dalam menjaga amanah bersama.
Sebagai elemen kontrol sosial seperti Media Center Indonesia (MCI) Kota Tangerang yang konsisten menyuarakan aspirasi publik, mereka sejatinya sedang menjalankan fungsi pengingat. Dan pengingat bukanlah musuh.
Namun di titik inilah birokrasi diuji.
Birokrasi yang sehat adalah birokrasi yang terbuka terhadap evaluasi, bukan yang sibuk membangun citra tetapi lalai membangun kinerja. Keluhan tentang pelayanan yang lamban, komunikasi yang tertutup, atau kebijakan teknis yang terasa jauh dari realitas lapangan bukanlah serangan — melainkan sinyal bahwa ada ruang perbaikan.
Birokrasi tidak boleh merasa kebal karena berlindung di balik aturan. Aturan dibuat untuk melayani rakyat, bukan untuk menjauhkan diri dari rakyat. Integritas aparatur tidak diukur dari seberapa rapi laporan disusun, tetapi dari seberapa nyata dampaknya dirasakan masyarakat.
Dalam suasana reflektif, terutama di bulan penuh makna seperti Ramadhan, kita diajak membersihkan hati dari kesombongan dan rasa paling benar. Seorang pemimpin yang kuat tidak takut dikritik. Ia justru bersyukur masih ada yang peduli untuk mengingatkan.
Karena yang lebih berbahaya dari kritik adalah ketika tidak ada lagi yang berani berbicara. Keheningan bisa menjadi tanda bahwa harapan mulai pudar.
“Semakin dibenci, semakin menjadi” bukanlah slogan perlawanan. Ia adalah pengingat bahwa perjuangan moral seringkali tidak nyaman. Namun perjuangan yang dilandasi niat baik dan integritas tidak akan sia-sia.
Kita tidak sedang membangun ruang permusuhan. Kita sedang membangun ruang evaluasi. Kita tidak sedang mencari siapa yang salah. Kita sedang mencari bagaimana memperbaiki.
Dan untuk birokrasi yang masih merasa terganggu oleh kritik, mungkin yang perlu direnungkan bukan siapa yang berbicara, tetapi apa yang sedang dibicarakan.
Jabatan bukan tameng dari evaluasi. Kewenangan bukan alasan untuk anti koreksi. Jika birokrasi lebih sibuk meredam suara daripada memperbaiki pelayanan, maka di situlah integritas mulai dipertanyakan.
Demokrasi bukan hanya sistem politik. Ia adalah sistem nilai.
Jika ilmu mengarahkan kebijakan, maka iman mengarahkan keadilan. Jika strategi membangun program, maka hati yang bersih memastikan program itu tidak melukai rakyat.
Di sinilah kritik menemukan maknanya bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai pengingat bahwa setiap keputusan akan dipertanggungjawabkan, bukan hanya di hadapan masyarakat, tetapi juga di hadapan Tuhan.
Dan selama suara itu untuk kebaikan bersama, saya percaya: kritik adalah ibadah sosial. Ia mungkin tidak selalu disukai, tetapi ia menjaga kita tetap lurus.
( red)










