Beranda / Artikel / Perjuangan Melawan Kebodohan yang Dipelihara

Perjuangan Melawan Kebodohan yang Dipelihara

Oleh: Cecep Anang Hardian

Bangsa ini sesungguhnya tidak kekurangan orang pintar. Sekolah berdiri di mana-mana, gelar akademik semakin mudah ditemukan, teknologi berkembang begitu cepat, dan informasi tersebar tanpa batas. Namun ironisnya, di tengah semua itu, kebodohan justru tetap tumbuh dan kadang sengaja dipelihara.

Kebodohan hari ini bukan lagi sekadar tidak bisa membaca atau tidak memahami ilmu pengetahuan. Kebodohan yang paling berbahaya adalah ketika masyarakat dibuat berhenti berpikir kritis. Ketika rakyat lebih sibuk dipenuhi hiburan tanpa arah dibanding memahami keadaan sekitarnya. Ketika fakta dikalahkan oleh propaganda, dan suara kebenaran tenggelam oleh opini yang dibangun demi kepentingan tertentu.

Kita hidup di zaman ketika informasi bisa dimanipulasi dengan mudah. Kebohongan dibungkus rapi menjadi narasi, lalu disebarkan berulang-ulang sampai dianggap sebagai kebenaran. Masyarakat diarahkan untuk sibuk saling menyerang, saling membenci, dan saling menjatuhkan, sementara persoalan besar bangsa perlahan luput dari perhatian.

Lebih parah lagi, ada pihak-pihak yang merasa diuntungkan ketika rakyat tetap tidak sadar. Sebab rakyat yang kritis sulit dikendalikan. Rakyat yang berani bertanya akan menjadi ancaman bagi kekuasaan yang tidak jujur. Maka tidak heran jika kadang suara kritis justru dicibir, dibungkam, atau dianggap mengganggu ketertiban.

Kebodohan yang dipelihara juga terlihat ketika masyarakat mulai malas mencari kebenaran. Banyak yang lebih percaya potongan video pendek dibanding membaca fakta utuh. Banyak yang lebih mudah terprovokasi dibanding memahami persoalan secara mendalam. Akibatnya, emosi lebih sering mengalahkan akal sehat.

Padahal sejarah membuktikan bahwa bangsa besar lahir dari masyarakat yang berani berpikir. Perubahan tidak pernah datang dari orang-orang yang hanya diam mengikuti arus. Perubahan lahir dari keberanian mempertanyakan keadaan, keberanian melawan ketidakadilan, dan keberanian membuka mata terhadap permainan kekuasaan.

Hari ini perjuangan terbesar mungkin bukan lagi melawan penjajahan fisik, tetapi melawan pembodohan yang terus diwariskan secara halus. Pembodohan yang membuat rakyat lupa haknya, lupa kekuatannya, dan akhirnya rela dipermainkan oleh kepentingan elite.

Karena itu, melawan kebodohan bukan hanya tugas sekolah atau pendidikan formal. Itu adalah tugas seluruh masyarakat. Membiasakan berpikir kritis, berani mencari fakta, dan tidak mudah percaya pada narasi yang menyesatkan adalah bentuk perlawanan paling penting di zaman sekarang.

Sebab ketika rakyat mulai sadar dan berani berpikir, maka kekuasaan yang dibangun di atas manipulasi akan mulai kehilangan pijakannya.

( red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *