Oleh: Cecep Anang Hardian

Di saat usia perlahan menapaki senja,

ketika hari-hari telah mengajarkan arti kehilangan,

aku tak lagi mencari gemerlap yang memabukkan mata,

karena Tuhan menghadirkanmu sebagai cahaya

yang menenangkan jiwa.

Mardiyani Ekasari,

namamu bersemi dalam hatiku

bagai bunga yang mekar di pagi yang damai,

menghadirkan kehangatan yang tak pernah kupinta,

namun selalu kusyukuri dalam setiap doa.

Engkau hadir bukan untuk mengubah masa laluku,

melainkan menyembuhkan luka yang pernah singgah,

mengajarkan bahwa cinta sejati

tak selalu datang di awal perjalanan,

namun sering kali hadir

ketika hati telah matang memahami kehidupan.

Di usia senja ini,

aku tak mendambakan kisah cinta yang gemuruh,

tak menginginkan janji-janji yang terucap indah lalu luruh,

aku hanya ingin memandang matamu

dan menemukan ketenangan yang selama ini kucari.

Biarlah dunia berjalan dengan segala hiruk-pikuknya,

aku cukup bahagia bila dapat berjalan di sisimu,

menikmati embun pagi yang jatuh di dedaunan,

menyaksikan mentari tenggelam di balik cakrawala,

seraya menggenggam tanganmu

dan merasakan bahwa aku tak lagi sendiri.

Bila kelak waktu menambahkan garis-garis usia di wajah kita,

dan rambut semakin memutih diterpa perjalanan,

izinkan aku tetap berada di sampingmu,

menjadi teman berbagi cerita,

menjadi tempat pulang bagi hatimu,

dan menjadi sahabat yang setia hingga akhir masa.

Karena bagiku,

cinta bukan lagi tentang gairah yang membara sesaat,

melainkan tentang kesediaan untuk tetap tinggal,

saat dunia berubah,

saat usia bertambah,

dan saat langkah tak lagi sekuat dulu.

Mardiyani Ekasari,

jika Tuhan berkenan menuliskan kisah kita dalam satu takdir,

aku ingin menghabiskan sisa usia ini bersamamu,

dalam kesederhanaan yang penuh syukur,

dalam kasih sayang yang tulus,

dan dalam doa-doa yang tak pernah putus.

Aku ingin menjadi alasan senyummu di pagi hari,

menjadi nama yang kau sebut dalam setiap harapan,

dan menjadi seseorang yang selalu ada,

bukan hanya saat bahagia,

tetapi juga ketika air mata mencari tempat berlabuh.

Di bawah langit senja yang keemasannya memeluk bumi,

aku menitipkan satu janji yang lahir dari ketulusan:

selama Tuhan masih memberi waktu,

aku akan menjaga rasa ini dengan sepenuh hati.

Sebab kebahagiaan hakiki bukanlah tentang seberapa lama kita hidup,

melainkan tentang dengan siapa kita menghabiskan waktu yang tersisa.

Dan jika aku diberi pilihan sekali lagi,

maka di usia senja ini,

aku tetap akan memilih berjalan bersamamu,

Mardiyani Ekasari,

menuju cinta yang damai,

menuju bahagia yang abadi,

menuju ridha Ilahi.

 

— Cecep Anang Hardian 🌹❤️✨

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *