Tangerang – Di tengah arus pendidikan yang semakin mekanis dan berorientasi pada angka, Media Center Indonesia (MCI) Kota Tangerang justru mengambil arah berbeda. Mereka bersiap kembali menggelar Forum Group Discussion (FGD), namun kali ini dengan pendekatan yang lebih menyentuh akar persoalan: membangun kesadaran melalui cerita.
Mengusung tema “Gerakan Guru Bercerita untuk Generasi Bercahaya”, kegiatan ini dirancang menyasar para praktisi pendidikan, baik dari jalur formal maupun nonformal. Bukan sekadar forum diskusi biasa, FGD ini diharapkan menjadi ruang refleksi sekaligus gerakan kultural dalam dunia pendidikan.
Ketua MCI Kota Tangerang, Asep Wawan Wibawan, mengungkapkan bahwa rencana ini lahir dari kegelisahan sekaligus dorongan berbagai pihak, khususnya para aktivis dan praktisi pendidikan yang melihat adanya kekosongan pendekatan humanis dalam proses belajar mengajar.
“Kami didorong oleh rekan-rekan aktivis dan praktisi pendidikan untuk kembali menghadirkan ruang diskusi yang bukan hanya formalitas, tetapi benar-benar menyentuh substansi pendidikan,” ujarnya di kediamannya, Sabtu (2/5/2026).
Menurut Asep, komunikasi awal dengan pihak Dinas Pendidikan Kota Tangerang telah terjalin dengan baik. Respons positif dari Sekretaris Dinas Pendidikan menjadi sinyal bahwa gagasan ini bukan sekadar idealisme, melainkan kebutuhan nyata yang mulai disadari bersama.
Namun di balik semangat tersebut, MCI masih dihadapkan pada persoalan klasik: pendanaan.
“Saat ini kami masih memikirkan bagaimana cara mendapatkan dukungan anggaran agar kegiatan ini bisa berjalan maksimal,” tambahnya.
Bukan tanpa rekam jejak, MCI sebelumnya telah beberapa kali sukses menggelar FGD dengan berbagai tema strategis. Mulai dari isu pelayanan informasi publik, pandangan masyarakat terhadap partai politik, hingga peran generasi milenial dalam demokrasi semuanya berhasil menghadirkan diskursus yang hidup dan relevan.
Kini, melalui tema “guru bercerita”, MCI mencoba menggeser paradigma. Bahwa pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu, tetapi juga proses membangun imajinasi, empati, dan karakter.
Asep menegaskan, metode bercerita bukan hal baru, tetapi justru sering diabaikan dalam sistem pendidikan modern yang terlalu kaku.
“Ketika guru mampu bercerita, peserta didik tidak hanya memahami, tetapi juga merasakan. Dari situ lahir motivasi, imajinasi, bahkan obsesi untuk menjadi lebih baik,” tegasnya.
Ia meyakini, jika pendekatan ini diterapkan secara serius, maka proses belajar mengajar tidak lagi menjadi rutinitas membosankan, melainkan ruang tumbuh bagi generasi yang kuat secara mental dan tajam secara intelektual.
Di akhir pernyataannya, Asep berharap rencana ini mendapat dukungan luas dari berbagai pihak—baik pemerintah, swasta, maupun komunitas pendidikan.
“Ini bukan hanya agenda MCI, tetapi gerakan bersama. Jika kita ingin generasi bercahaya, maka kita harus mulai dari cara kita mendidik mereka,” pungkasnya.
(ric)










