Oleh Cecep Anang Hardian
Di tengah kehidupan sosial yang makin padat oleh tuntutan citra dan kesan, kita sering lupa bahwa ada satu bentuk kejujuran yang tidak pernah belajar dari buku mana pun. Ia tidak ikut pelatihan etika, tidak pula tumbuh dari kebiasaan berbicara manis. Kejujuran itu hadir sebagai getaran sunyi, tak kasat mata, namun terasa begitu nyata.
Ia bukan kata-kata yang disusun rapi seperti kemeja hari raya atau kalimat formal saat melamar pekerjaan. Ia lebih menyerupai angin yang menyelinap dari celah jendela: tak terlihat, tapi cukup untuk memberi sinyal apakah sebuah ruang benar-benar “rumah” atau sekadar tempat singgah yang pura-pura hangat.
Sayangnya, kita sering terjebak pada ilusi yang diciptakan oleh bahasa. Kalimat yang tersusun indah, pilihan kata yang wangi oleh kesopanan, dan senyum yang tampak tak pernah habis semuanya bisa menjadi etalase yang menipu. Dari luar tampak hangat, namun di dalamnya tersimpan musim dingin yang enggan mengaku. Kita duduk di dekatnya, tapi jiwa justru merasa asing, seolah menunggu izin untuk pulang.
Sebaliknya, ada pula mereka yang hadir tanpa kemasan. Ucapannya seperti batu kerikil ceplas-ceplos, tanpa amplas, tanpa pita. Secara bentuk, mungkin terasa kasar, bahkan tak nyaman. Namun justru dari sana mengalir sesuatu yang hangat dan jujur. Bukan keindahan kata yang menyentuh, melainkan ketulusan yang sudah ada jauh sebelum bahasa diciptakan.
Lebih menarik lagi, kejujuran ini sering kali terasa bahkan sebelum kata pertama diucapkan. Seseorang bisa saja baru hadir, duduk diam, atau sekadar lewat namun niatnya sudah lebih dulu “menyapa” batin kita. Ada semacam pesan yang sampai tanpa perantara, seperti bayangan yang mendahului tubuhnya sendiri. Kita tahu, tanpa benar-benar tahu bagaimana cara mengetahuinya.
Ironisnya, dalam kehidupan sehari-hari, kita justru lebih rajin mempelajari hal-hal yang bisa dilatih. Kita hafal bagaimana memilih kata yang tepat, tahu kapan harus tersenyum, dan piawai menjaga kesan. Namun kita sering lalai membaca hal-hal yang tidak diajarkan: getaran, intuisi, dan rasa yang diam-diam memberi tanda.
Kita gemar mengoreksi cara orang berbicara, tetapi gagap saat harus memahami makna di balik diam. Kita sibuk menilai bentuk, tapi abai pada isi. Tak heran jika hati kerap “salah alamat”, padahal sejak awal ia sudah memberi sinyal berkedip seperti lampu jalan yang tak pernah benar-benar padam.
Pada akhirnya, yang tersisa adalah kesadaran kecil kadang manis, kadang pahit bahwa kita terlalu mudah percaya pada hal-hal yang bisa direkayasa, dan terlalu sering mengabaikan yang tak bisa dibuat-buat. Padahal justru di situlah kejujuran sejati berdiam: tak bersuara, tak berbentuk, namun selalu menemukan jalannya untuk sampai.
( red )









