Beranda / Artikel / KETIKA KEKUASAAN MERASA DIRINYA TUHAN

KETIKA KEKUASAAN MERASA DIRINYA TUHAN

Oleh: Cecep Anang Hardian

Ada kekuasaan yang awalnya lahir dari kepercayaan rakyat, tetapi perlahan berubah menjadi keyakinan bahwa dirinya tidak boleh dibantah.
Di situlah persoalan dimulai.

Ketika seorang pemegang kekuasaan mulai merasa semua keputusan harus benar hanya karena keluar dari tangannya, kritik dianggap pembangkangan, pertanyaan dianggap ancaman, dan rakyat dianggap sekadar objek yang harus patuh.

Kekuasaan telah kehilangan batas ketika dirinya mulai merasa seperti Tuhan.
Padahal manusia tetap manusia. Sehebat apa pun jabatannya, ia tetap bisa salah. Sebesar apa pun kewenangannya, ia tetap harus tunduk kepada hukum. Dan setinggi apa pun kursinya, ia tetap berdiri di atas kepercayaan masyarakat.

Kekuasaan seharusnya menjadi alat untuk menghadirkan keadilan, bukan alat untuk mempertontonkan siapa yang paling kuat.
Ia seharusnya membuka ruang bagi kritik, bukan menutup telinga terhadap suara yang tidak menyenangkan. Sebab pemerintahan yang hanya dikelilingi orang-orang yang mengatakan “iya” akan mudah kehilangan kemampuan untuk melihat kesalahannya sendiri.
Yang lebih berbahaya adalah ketika kekuasaan mulai menggunakan kewenangan bukan untuk menyelesaikan persoalan rakyat, tetapi untuk mempertahankan kenyamanan kekuasaan itu sendiri.
Pada titik tersebut, yang perlu ditakuti bukan kritik masyarakat.
Yang perlu ditakuti adalah kekuasaan yang tidak lagi merasa perlu dikritik.

Sejarah telah berkali-kali menunjukkan bahwa kekuasaan yang merasa tidak terbatas pada akhirnya akan berhadapan dengan batas yang tidak bisa ditawar: waktu, hukum, dan pertanggungjawaban.
Karena tidak ada kursi yang abadi.
Tidak ada jabatan yang kekal.

Dan tidak ada manusia yang benar-benar berkuasa atas segalanya.
Maka kepada siapa pun yang sedang memegang kekuasaan, satu pesan sederhana patut direnungkan:

Jangan biarkan jabatan membuatmu lupa bahwa kekuasaan hanyalah amanah.
Sebab ketika kekuasaan mulai merasa dirinya Tuhan, biasanya yang pertama hilang bukan kewenangannya.
Melainkan rasa kemanusiaannya.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *